Sabtu, 31 Agustus 2024

Renungan Pagi 1 September 2024



*Jadikan Lelah Kita Lillah*

๐Ÿ€ Rasa lelah itu menghinggapi siapa saja, tak terkecuali manusia yang paling kuat sekalipun akan merasakannya. 

๐Ÿ€ Manusiawi memang, namun jangan sampai aktifitas yang kita lakukan hanya membuahkan lelah dan ratapan. Hal itu membuat kita tak mendapatkan apa-apa di sisi Allah SWT 

๐Ÿ€ Maka iringi segala aktifitas yang kita lakukan  itu dengan niat lillah (karena Allah SWT) dan semata-mata mengharap pahala dari-Nya, 

๐Ÿ€ Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.
( Al-Insyirah, Ayat 7-8)

๐Ÿ€ Semoga kita senantiasa diberikan Allah kemudahan dalam setiap urusan Aamiin. 

Reshared by Kustiyadi

Rabu, 28 Agustus 2024

Renungan Siang 29 Agustus 2024



*Tadzkiroh* 

๐Ÿ€ Ada orang memandangmu sebagai orang yang bertaqwa. 
Sebahagian orang  memandangmu sebagai orang yang berlumuran dosa. 
Dan sebahagian yang lain dengan pandangannya yang berbeda-beda. 

Namun pada akhirnya...

๐Ÿ€ Engkaulah yang paling tahu tentang diri kamu,
Banyak hal tentang dirimu yang tidak akan diketahui oleh orang selainmu.
Itu adalah rahasia hubunganmu dengan Tuhanmu.

๐Ÿ€ Maka jangan terpedaya oleh orang yang memujimu,
Dan jangan resah terhadap orang yang mencelamu.

"Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri" 
(QS. Al-Qiyamah: 14)

Reshared by Kustiyadi

Selasa, 27 Agustus 2024

Renungan Pagi 28 Agustus 2024



 *Menjadi Suami Terbaik*

๐Ÿ€ Suami terbaik adalah yang paling baik pada keluarganya, contohnya selalu membantu urusan istri di rumah. Membantu pekerjaan istri di rumah termasuk bentuk berbuat baik dari suami pada istri dan menunjukkan keluhuran akhlak suami.

๐Ÿ€ Coba lihat bagaimanakah contoh dari suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau berada di rumah.

ุนَู†ِ ุงู„ุฃَุณْูˆَุฏِ ู‚َุงู„َ ุณَุฃَู„ْุชُ ุนَุงุฆِุดَุฉَ ู…َุง ูƒَุงู†َ ุงู„ู†َّุจِู‰ُّ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ูŠَุตْู†َุนُ ูِู‰ ุฃَู‡ْู„ِู‡ِ ู‚َุงู„َุชْ ูƒَุงู†َ ูِู‰ ู…ِู‡ْู†َุฉِ ุฃَู‡ْู„ِู‡ِ ، ูَุฅِุฐَุง ุญَุถَุฑَุชِ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉُ ู‚َุงู…َ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ

_Dari Al-Aswad, ia bertanya pada 'Aisyah, "Apa yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?" 'Aisyah menjawab, *"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah.* Jika telah tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat."_ (HR. Bukhari, no. 6039)

๐Ÿ€ Dalam Syarh Al-Bukhari karya Ibnu Batthol rahimahullah disebutkan bahwa Al-Muhallab menyatakan, inilah pekerjaan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di rumahnya. Hal ini wujud tanda ketawadhu'an (kerendahan hati) beliau, juga supaya umatnya bisa mencontohnya. Karenanya *termasuk sunnah Nabi, hendaklah seseorang bisa mengurus pekerjaan rumahnya, baik menyangkut perkara dunia dan agamanya.*

๐Ÿ€ As-Sindi rahimahullah dalam catatan kaki untuk Shahih Al-Bukhari menyatakan bahwa membantu urusan rumah termasuk kebiasaan (sunnah) orang-orang shalih.

๐Ÿ€ Ketawadhu'an inilah yang nanti akan membuat Allah meninggikan derajat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ูˆَู…َุง ุชَูˆَุงุถَุนَ ุฃَุญَุฏٌ ู„ِู„َّู‡ِ ุฅِู„ุงَّ ุฑَูَุนَู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ُ

_"Tidaklah seseorang tawadhu' (merendahkan hati) karena Allah melainkan Dia akan meninggikan derajatnya."_ (HR. Muslim, no. 2588)

๐Ÿ€ Yang paling penting lagi, membantu istri di rumah *akan membuat seorang suami makin dicintai.* Tak percaya? Silakan buktikan dengan membantunya saat masak, saat berbelanja, menyetrika termasuk juga dalam mengurus anak-anak.

๐Ÿ€ *Ingatlah suami terbaik adalah suami yang paling baik pada istri, anak dan keluarganya.* Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ุฎَูŠْุฑُูƒُู…ْ ุฎَูŠْุฑُูƒُู…ْ ู„ุฃَู‡ْู„ِู‡ِ ูˆَุฃَู†َุง ุฎَูŠْุฑُูƒُู…ْ ู„ุฃَู‡ْู„ِู‰

_"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarganya. Aku sendiri adalah orang yang paling baik pada keluargaku."_ (HR. Tirmidzi, no. 3895. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

๐Ÿ€ Semoga kita benar-benar menjadi suami teladan dan suami terbaik di rumah.

Reshared by Kustiyadi

Renungan Pagi 27 Agustus 2024



*MEWARISKAN ANAK IDEOLOGIS*
By. Satria Hadi Lubis 

๐Ÿ€ SALAH satu kewajiban setiap muslim adalah mewariskan nilai-nilai Islam dan dakwah kepada anak-anaknya atau kepada generasi muda selanjutnya.

Allah berfirman : "Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, "Apa yang kamu sembah SEPENINGGALKU?" Mereka menjawab, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya" (Qs. 2 ayat 133).

"Dan hendaklah TAKUT (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar" (Qs. 4 ayat 9).

๐Ÿ€ Dalam realitanya, ada empat golongan orang tua dalam upaya mewariskan dakwah kepada generasi selanjutnya :

✨ Pertama . Orang tua yang berhasil mendidik anak nasabnya (anak biologisnya) menjadi anak ideologi Islam. Mereka juga berhasil banyak mencetak anak-anak bukan nasabnya menjadi anak ideologi Islam. 

✨ Kedua, orang tua yang gagal mendidik anak nasabnya menjadi anak ideologi Islam, seperti kisah anak Nabi Nuh as. Namun mereka berhasil banyak mencetak anak bukan nasabnya menjadi anak-anak ideologi Islam.  

✨ Ketiga, orang tua yang berhasil mendidik anak nasabnya menjadi anak ideologi Islam. Namun mereka tidak turut serta (tidak berdakwah) untuk mencetak anak bukan nasabnya menjadi anak-anak ideologi Islam. 

✨ Keempat, orang tua yang gagal mendidik anak nasabnya menjadi anak ideologi Islam. Dan mereka juga tidak ikut serta mencetak anak bukan nasabnya menjadi anak-anak ideologi Islam. 

๐Ÿ€ Dari klasifikasi sederhana tersebut, tentu golongan pertama adalah golongan yang paling sukses. Mereka akan meninggalkan dunia ini dengan senyum kepuasaan dan kebanggaan sebagai seorang muslim, yang telah berhasil melakukan tauritsul amal (mewariskan amal Islam) kepada banyak anak-anak muda, baik anaknya sendiri maupun anak orang lain.

๐Ÿ€ Golongan kedua adalah golongan yang telah berusaha untuk mendidik anak nasabnya tapi karena kurang tepat atau kurang ilmu dalam pola asuh, maka anaknya tidak mengikuti jalan orang tuanya. Walaupun kurang sukses dalam mendidik anaknya sendiri, namun mereka masih memiliki kebanggaan karena turut serta dalam barisan dakwah yang berhasil banyak mencetak anak-anak bukan nasabnya menjadi anak ideologis.

๐Ÿ€ Golongan ketiga adalah golongan orang tua yang cukup sukses dan patut menjadi teladan dalam pendidikan anak nasabnya.  Namun mereka perlu instrospeksi diri mengapa tidak turut berdakwah kepada anak-anak bukan nasabnya, yang semestinya bisa mereka didik dengan mencontoh keberhasilan mereka dalam mendidik anak nasabnya. Kelalaian dalam berdakwah akan dimintai pertanggungjawabnnya kelak di yaumil hisab. 

๐Ÿ€ Golongan keempat adalah golongan orang tua yang tidak paham untuk apa mereka hidup dan menghidupkan. Inilah golongan orang tua yang gagal dan jahil, yang hanya bisa bangga dengan keberhasilan materi, gengsi dan gelar-gelar semu untuk dirinya dan anaknya. Mereka tidak peduli dengan masa depan peradaban manusia dan Islam.

๐Ÿ€ Pertanyaannya adalah, termasuk orang tua yang manakah Anda?

๐Ÿ€ Ketahuilah wahai saudaraku...masing-masing kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT terhadap tugas ini.

๐Ÿ€ Semoga kita terus berusaha menjadi orang tua golongan pertama sampai akhir usia kita, karena mereka inilah sebaik-baiknya golongan orang tua (sukses).

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (Qs. 66 ayat 6).

"Kemudian datanglah setelah mereka generasi pengganti yang mengabaikan salat dan mengikuti syahwatnya, maka mereka kelak akan tersesat" (Qs. 19 ayat 59).

Reshared by Kustiyadi

Minggu, 25 Agustus 2024

Renungan Pagi 26 Agustus 2024



Tadzkiroh 

๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€

Jangan lelah untuk selalu berpikir positif, tidak peduli seberapa keras kehidupan yang kau jalani.

Saatnya melepas lelah, meletakkan segala masalah & menitipkan harapan pada Sang Kuasa, yakini di setiap kesulitan ada pertolongan.

Selalu akhiri hari dengan pikiran positif.

Tidak peduli seberapa sulitnya, besok adalah kesempatan baru untuk membuatnya lebih baik.

Semoga rahmat Allah Swt. tercurah untuk kita semua & mengabulkan doa - do'a  kita.

Reshared by Kustiyadi

Sabtu, 24 Agustus 2024

Renungan Siang 25 Agustus 2024





*PERILAKU GAGAL*
Oleh: Aunur Rafiq Saleh

๐Ÿ€ Al-Quran menyebut beberapa perilaku sebagai perilaku orang gagal (ุฎุงุจ). Ini berarti perilaku tersebut sangat buruk, berpotensi menyebabkakan kegagalan dan berdampak buruk dalam kehidupan pelakunya, bila tidak segera ditinggalkan.

✨ Perilaku gagal pertama adalah kebohongan:

ۚ ูˆَู‚َุฏْ ุฎَุง ุจَ ู…َู†ِ ุงูْุชَุฑٰ ู‰

"...Dan sungguh rugi orang yang mengada-adakan kebohongan."
(Taha: 61)

๐Ÿ”น Orang yang suka berbohong akan mendapat cap pembohong dan terjebak dalam mata rantai keburukan hingga tidak dipercaya orang (Muslim 2607). Orang yang tidak dipercaya orang lain pasti gagal dalam hidupnya. Karena modal utama kesuksesan hidup ini adalah kepercayaan.

๐Ÿ”น Orang yang berhasil dalam apa saja tetapi diraih melalui kebohongan bisa dipastikan dia menjadi orang gagal, capat atau lambat.

✨ Perilaku gagal kedua adalah tirani dan keras kepala.

ูˆَุง ุณْุชَูْุชَุญُูˆْุง ูˆَุฎَุง ุจَ ูƒُู„ُّ ุฌَุจَّุง ุฑٍ ุนَู†ِูŠْุฏٍ

"Dan mereka memohon diberi kemenangan dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala," (Ibrahim: 15)

๐Ÿ”น Seorang pemimpin yang terjebak dalam perilaku tirani dan keras kepala pasti gagal dalam kepemimpinan dan pemerintahannya (sudah banyak contohnya dalam sejarah).

๐Ÿ”น Demikian pula seorang pemimpin rumah tangga, organisasi dan lainnya. Jika berperilaku tirani dan keras kepala pasti mengalami kegagalan.

๐Ÿ”น Bahkan seorang anggota organisasi yang bersikap tirani dan keras kepala dengan tidak mematuhi aturan dan keputusan yang ditetapkan dalam mekanisme syura, juga berpotensi menjadi orang gagal. Karena perilaku tirani dan keras kepala menyebabkan kegagalan siapa saja pelakunya, baik pemimpin atau prajurit biasa.

✨ Perilaku gaga ketiga adalah kezaliman.

ูˆَุนَู†َุชِ ุงู„ْูˆُุฌُูˆْู‡ُ ู„ِู„ْุญَูŠِّ ุงู„ْู‚َูŠُّูˆْู…ِ ۗ ูˆَู‚َุฏْ ุฎَุง ุจَ ู…َู†ْ ุญَู…َู„َ ุธُู„ْู…ًุง

"Dan semua wajah tertunduk di hadapan (Allah) Yang Hidup dan Yang Berdiri sendiri. Sungguh rugi orang yang melakukan kezaliman." (Taha:  111)

๐Ÿ”นDalam ayat ini diisyaratkan bahwa kezaliman terburuk adalah tidak mau tunduk kepada Allah.

๐Ÿ”น Apa saja kesuksesan yang tidak membawa kepada ketundukan kepada Allah adalah kegagalan hidup.

✨ Perilaku gagal keempat adalah mengotori jiwa.

ูˆَู‚َุฏْ ุฎَุง ุจَ ู…َู†ْ ุฏَุณّٰูฎู‡َุง

"dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (Asy-Syams: 10)

๐Ÿ”น Bila hati dibiarkan menjadi sarang penyakit seperti riya', dengki, dendam, sombong, benci orang saleh, khianat dan sifat-sifat buruk lainnya maka bisa dipastikan orang ini adalah orang yang gagal dalam menjalani kehidupan.

๐Ÿ”น Kesuksesan apa saja yang menyebabkan hati dan jiwanya kotor penuh penyakit adalah kegagalan hidup. 

๐Ÿ€ ⁠Bila berbagai perilaku gagal tersebut berhimpun pada seseorang, ia akan cepat tumbang dan hancur, sekalipun ia seorang penguasa kuat.

๐Ÿ€ Semoga Allah menjauhkan kita semua dari semua perilaku gagal dan mengaruniakan kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.

Reshared by Kustiyadi

Jumat, 23 Agustus 2024

Renungan Pagi 24 Agustus 2024



Tadzkiroh 

๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€
Ketika kamu mengalami kesusahan, mendapat musibah atau sedang sakit, Orang lain bisa saja peduli.

Namun pada akhirnya diri kita sendirilah yang akan tetap merasakan semua sendiri.

Maka hendaknya kita senantiasa berusaha menjaga diri sebaik mungkin dan berdoa memohon keselamatan, kekuatan dan kebaikan kepada Allah SWT 

Sehingga tatkala kita mendapatkan kesusahan, musibah dan sakit, kita mampu menghadapinya dengan kuat. Tanpa mudah mengeluh dan mengharap belas kasihan pertolongan dari manusia.

Terlebih jika kita semakin besar berharap kepada manusia, maka akan semakin besar pula kita akan kecewa.

Sebab manusia itu lemah, mudah alpa, mudah berpaling dan mudah ingkar.

Karena itu jangan pernah berharap kepada manusia secara berlebihan, Tapi berharaplah sepenuhnya hanya kepada Allah.

"Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." (Qs. Al-Insyirah: 8)

Reshared by Kustiyadi